PROLOG
Siang ini, Samantha mengajakku pergi menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari rumahku. Dia tidak memberitahukanku alasan dia mengajakku, namun karena aku muak dipaksa terus menerus, akhirnya aku menuruti apa kemauan Samantha.
"Siapa yang akan berjumpa dengan kita, ma?"
"Diam dan duduk manis saja!" bentaknya padaku.
Tak lama setelah itu, tibalah seorang lelaki tampan yang sepertinya umurnya lebih tua dariku tapi tidak terlalu jauh dengan menggandeng seorang wanita yang sepertinya ibu dari lelaki itu.
Dari sini firasatku mulai tidak enak. Ingin rasanya aku keluar dari restoran itu.
"Hai, Renaya, apakabar?" sapa lelaki itu padaku. Tapi, bagaimana dia bisa tahu namaku. Bahkan aku tidak mengenal lelaki itu siapa(?)
Dia duduk tepat didepanku. Dia terus melihat ke arahku. Memang sangat canggung, tapi aku mencoba untuk menatapnya kembali.
_Seperti seseorang yang ku kenal, tapi aku tidak mengenalnya_ batinku.
"Bagaimana nanti pernikahan mereka, Samantha?" tanya wanita yang duduk disebelah lelaki itu.
Aku terkejut mendengar hal itu langsung memukul meja makan dan pergi meninggalkan Samantha yang terus-terusan berteriak memanggil namaku.
Ditengah perjalanan, aku bertemu dengan si pemilik mobil Mercedes-Bens butut yang sedang melaju di sekitaran restoran itu. Aku berusaha memberhentikannya dan menggedor kaca mobil butut itu hingga sang pemilik menurunkan kaca mobilnya.
"Apaan sih?"
"Nanti malam jemput, pokoknya jemput, ngerti ya, Sam?" Setelah aku mengatakan itu, aku langsung menyuruh Arhasam meninggalkan aku sendiri pulang ke rumah mewah bagaikan penjara itu.
Kini, aku sampai di penjara, bukan penjara untuk para kriminal, tetapi penjara berbentuk rumah yang siap mengekangku setiap hari.
Komentar
Posting Komentar