Postingan

KAPITEL 1

"Kau jangan mempermalukan keluarga ini, kau jangan jadi wanita rendahan seperti wanita-wanita diluar sana!" bentak Samantha -ibuku- sembari melemparkan sebuah garpu lilin dengan lilin yang masih menyala ke kaca jendela rumah. Aku menatap kesal ke arah Samantha, aku berlari ke arah kamarku yang berada di lantai dua rumah ini. Aku membanting pintu kamar lalu mengemasi semua barangku.  Malamnya, aku diam-diam melarikan diri dari rumah ini. Walaupun nyaris ketahuan oleh asisten wanita yang sedang diperintahkan Samantha, pada akhirnya aku bisa keluar dari rumah ini. Aku berjalan ke arah mobil butut Mercedes-Bens yang terparkir di luar gerbang rumahku. Aku masuk ke dalam mobil itu dan menyimpan tas kotak kain milikku di bagasi mobil butut itu. "Halo nona manis, jadi mau kemana kita malam ini?" tanya lelaki itu sambil menyodorkan telapak tangannya ke arahku. "Mungkin kota sebelah cukup nyaman bagiku." Aku menyamankan dudukku sambil menepuk telapak tangan yang dis...

PROLOG

Siang ini, Samantha mengajakku pergi menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari rumahku. Dia tidak memberitahukanku alasan dia mengajakku, namun karena aku muak dipaksa terus menerus, akhirnya aku menuruti apa kemauan Samantha. "Siapa yang akan berjumpa dengan kita, ma?" "Diam dan duduk manis saja!" bentaknya padaku. Tak lama setelah itu, tibalah seorang lelaki tampan yang sepertinya umurnya lebih tua dariku tapi tidak terlalu jauh dengan menggandeng seorang wanita yang sepertinya ibu dari lelaki itu. Dari sini firasatku mulai tidak enak. Ingin rasanya aku keluar dari restoran itu. "Hai, Renaya, apakabar?" sapa lelaki itu padaku. Tapi, bagaimana dia bisa tahu namaku. Bahkan aku tidak mengenal lelaki itu siapa(?) Dia duduk tepat didepanku. Dia terus melihat ke arahku. Memang sangat canggung, tapi aku mencoba untuk menatapnya kembali. _Seperti seseorang yang ku kenal, tapi aku tidak mengenalnya_ batinku. "Bagaimana nanti pernikahan mereka, Samantha?...