KAPITEL 1

"Kau jangan mempermalukan keluarga ini, kau jangan jadi wanita rendahan seperti wanita-wanita diluar sana!" bentak Samantha -ibuku- sembari melemparkan sebuah garpu lilin dengan lilin yang masih menyala ke kaca jendela rumah.

Aku menatap kesal ke arah Samantha, aku berlari ke arah kamarku yang berada di lantai dua rumah ini. Aku membanting pintu kamar lalu mengemasi semua barangku. 

Malamnya, aku diam-diam melarikan diri dari rumah ini. Walaupun nyaris ketahuan oleh asisten wanita yang sedang diperintahkan Samantha, pada akhirnya aku bisa keluar dari rumah ini.

Aku berjalan ke arah mobil butut Mercedes-Bens yang terparkir di luar gerbang rumahku. Aku masuk ke dalam mobil itu dan menyimpan tas kotak kain milikku di bagasi mobil butut itu.

"Halo nona manis, jadi mau kemana kita malam ini?" tanya lelaki itu sambil menyodorkan telapak tangannya ke arahku.

"Mungkin kota sebelah cukup nyaman bagiku." Aku menyamankan dudukku sambil menepuk telapak tangan yang disodorkan oleh Arhasam.

Kami memulai perjalanan itu. Namun tiba-tiba suara tembakan terdengar dari rumahku, suara tembakan itu pertanda bahwa ada satu anggota keluarga yang telah tiada. Ya, aku sudah dianggap meninggal oleh orang rumah mulai hari itu. Kita tidak peduli dengan suara tembakan itu dan melanjutkan perjalanan kami ke Kota Nearbug.

Kini kita sudah sampai di perbatasan Kota Nearbug dan Kota Beika. Namun, aneh, mayat beterbaran dimana-mana. Kita memberhentikan kendaraan tepat di tengah hutan yang sudah menggelap, satu-satunya penerangan ialah lampu dari mobil Mercedes-Bens butut itu.

Aku turun dari mobil untuk melihat keadaan, namun saat kakiku menapakkan kaki ke tanah, Arhasam mencegah dengan memegang tanganku, namun aku segera menepisnya. "Tidak sopan, jangan sentuh tangan lembutku."

Dia melepaskan tanganku, lalu ikut turun dari mobilnya. Kita diperlihatkan mayat yang bertebaran di sepanjang jalan di hutan. Namun saat kami jalan semakin dekat, _Dorr!_

Kaki Arhasam tertembak oleh seseorang menggunakan senapan. Aku bersembunyi dibalik semak-semak, lalu memperhatikan tubuh Arhasam yang tidak berdaya didatangi oleh seorang lelaki muda bertubuh ramping dengan senapan berwarna coklat di samping pinggangnya.

"Katakan, mana sekutumu!" bentak lelaki itu sambil menendang tubuh Arhasam yang sedang merungkuk tak berdaya.

Aku tak tahan melihat Arhasam diperlakukan seperti itu, lalu aku berlari ke arah mereka berdua dan mendorong tubuh lelaki itu. "Hentikan itu, dasar jelek."

Tak terima didorong olehku, lelaki itu menodongkan senapannya ke arah wajahku. "Jawab cepat, kalian siapa?!"

"Aku Renaya, dia Arhasam, kami tidak bersekutu dengan siapapun, aku kemari hanya karena ingin meninggalkan Kota Beika." Aku menghiraukan acungan senapan itu dan hanya fokus mengikat syall milikku ke kaki Arhasam yang terus mengeluarkan darah.

Dia perlahan mulai menurunkan senapannya dan mendekat kepadaku. "Nona, apakah anda bisa mengobati para warga kami yang sedang terluka?"

Mendengar itu aku tercengang, lalu menatap mata lelaki itu. Rasanya aku ingin sekali membaca pikirannya, mengapa dia bisa memercayaiku?

"Apa yang terjadi dengan Kota Nearbug?"

"Jangan disini, aku akan menceritakannya di markas kami."

Kita betiga berjalan menuju markas yang ditunjukan oleh lelaki itu, Arhasam berjalan sambil dituntun oleh aku dan lelaki itu. 

"Apakah markasnya masih jauh? Atau jangan-jangan kamu menipuku?" tanyaku dengan nada yang curiga.

"Jangan sembarangan, ikut saja, lihat kesana ada sebuah penerangan, disana markas kami." Dia menunjuk ke sebuah rumah kayu dengan lampu obor yang terpasang dibeberapa tempat disana.

Kami melanjutkan perjalan menuju markas itu, sesekali Arhasam hampir hilang kesadarannya.

"Sam, jangan pingsan, tetap bangun," ucapku.

Kini kita sampai di markas itu, aku terkejut sekali karena banyak warga yang terluka di sana. Kakiku mulai lemas, tapi dalam hatiku aku yakin, aku pasti bisa menolong mereka semua.

"Siapa dia?" Tanya seorang wanita yang berjalan dari samping markas.

Aku menundukkan kepalaku, lalu memperkenalkan diri kepada wanita itu. "Halo nona, saya Renaya, anak Sosialita terkenal di Kota Beika."

"Mengapa kau kemari? Apakah kau sekutu dari Kota Zhurich?"

"Tidak ... aku kemari hanya untuk pindah kota, namun ketika di perjalanan aku melihat mayat bertebaran di hutan, setelah itu, lelaki ini membawaku kemari." 

"Dia akan merawat semua veteran yang terluka, Selly, kau bantulah dia, ajak Pasha dan warga wanita lainnya."

Wanita itu pergi dari pandanganku. 

Arhasam mulai mengeluh kesakitan, bertepatan dengan itu, aku melihat sebuah kursi kosong dan langsung mendudukan Arhasam ke kursi itu.

Aku membuka syall milikku lalu meminta lelaki itu untuk menidurkan tubuh Arhasam di lantai. Lalu memberikan penekanan pada luka tembakan pada kakinya agar darah semakin sedikit yang keluar.

Namun, kondisinya semakin melemah, nafasnya pun melemah. Aku ingin memberikan semuah nafas buatan, tetapi tidak memungkinkan, jadi aku hanya menekan keningnya sambil, meletakan tanganku dibawah dagunya, dan memiringkan kepalanya, hingga kondisinya seperti semula kembali.

"Pendarahannya berhenti!" teriakku kepada lelaki itu.

Aku sangat lega melihat pendarahannya berhenti, namun, peluru itu tertinggal didalam kaki Arhasam. Jadi aku memutuskan untuk melakukan operasi dadakan padanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROLOG